Masih seputar membaca. Istilah membaca dapat mencakup
pengertian yang sangat luas sekali. Untuk merumuskan pengertian membaca sangat
sulit karena ragam kegiatan membaca berbeda-beda. Seperti halnya pengertian
membaca dari proses kegiatan membaca, bahan atau materi bacaan, dan tujuan
membaca itu sendiri.
Bisa dikatakan bahwa membaca adalah mereaksi pengamatan
tehadap huruf yang merupakan representasi bunyi ujaran atau tanda penulisan
yang lainnya. Dari hasil mereaksi tersebut, kemudian terjadi rekognisi, yakni
pengenalan bentuk dalam kaitannya dengan makna yang dikandung serta pemahaman
keseluruhan yang masih harus melewati tahapan-tahapan tertentu. Membaca
merupakan suatu bentuk kegiatan yang kompleks yang melibatkan fisik, mental,
pengalaman, dan pengetahuan. Dalam proses membaca terjadi beberapa tahapan yang
saling berurutan. Mulai dari pengamatan
teks, memahami hubungan antar teks , memahami makna kata, mendalami pemahaman,
dan evaluasi untuk menyusun kesimpulan.
Ragam membaca dibagi menjadi beberapa macam, yakni membaca
dalam hati, membaca cepat, membaca teknik atau membaca nyaring. Dari kesemuanya
itu tidak tergantung bagaimana tujuan membaca sebelumnya. Apakah membaca untuk
pemahaman, membaca untuk refreshing atau hiburan, dan membaca untuk menghafalkan.
Untuk menindak daripada kegiatan setelah membaca, pembaca
dapat melakukan berbagai macam bentuk aktifitas selanjutnya. Seperti contohnya
adalah menulis resume atau rangkuman, menulis note atau catatan, menghafalkan,
dan sebagai bahan pengetahuan saja. Membaca tidak mempunyai tataran yang jelas
tentang bagaimana kuantitas membaca itu bisa dikatakan berhasil atau mencapai
tujuan dari kegiatan membaca. Semua cenderung relative tergantung oleh kualitas
pembaca itu sendiri. Kebanyakan untuk memahami apa yang kita baca memerlukan
waktu metode membaca yang baik, bila perlu dilakukan berulang-ulang untuk
mencapai pemahaman dari apa yang diintepretasikan oleh teks bacaan. Disamping
itu pula kegiatan membaca dipengaruhi oleh tingkat kesulitan teks bacaan, tema teks
bacaan, atau juga bisa dengan situasi dan kondisi ketika sedang membaca,
pengetahuan pembaca atau keterkaitan teks bacaan yang sebelumnya pernah dibaca.
Dalam hubungan antara faktor yang mempengaruhi membaca lebih
lanjut, teks-teks yang berisikan aksara untuk diejakan mempunyai peranan
penting. Pembaca sebagai subjek dan teks sebagai objek saling memiliki hubungan
timbal balik. Benda yang dikenai pekerjaan dari subjek atau seorang pembaca ini
memiliki tingkat kesulitan yang bermacam-macam. Dari jenis penggolongan
teks-teks saja, terdapat beberapa macam jenis teks, yakni teks fiksi atau non
fiksi dan teks sastra atau teks ilmiah. Teks fiksi lebih biasanya lebih sering
dikaitkan dengan teks sastra dan memang benar adanya. Namun teks sastra bukan
kesemuanya termasuk dalam teks fiksi. Dalam konteks ini teks sastra lebih luah
cakupannya dibandingkan teks fiksi. Berbeda dengan teks ilmiah atau non fiksi
yang sudah barang pasti memiliki kepastian atau kebenaran sesuai dengan
fakta-fakta ilmiah atau kebenaran konvensional. Bisa dikatakan teks ilmiah
merupakan bagian dari ilmu pasti yang mengkaji masalah-masalah yang sudah
paten.
Bagi para pembaca yang memang tidak begitu intens menggauli
teks bacaan jika dihadapkan dengan teks sastra terkadang mengalami kesulitan
yang membingungkan. Maksud dari kesulitan itu adalah ketidak pastian teks-teks
bacaan yang memang diciptakan untuk menyembunyikan maksud dari teks itu
sendiri. Teks sastra memang diciptakan sengaja tidak menggiring pembaca kearah
yang pasti dan isi dari teks tersebut cenderung disembunyikan dalam tanda-tanda
yang tersusun indah dalam serangkaian kata. Untuk itu pembaca harus jeli
memahami benar-benar teks yang ada dengan menerjemahkan teks sastra tersebut
dengan metode sastra yang ada. Memang pada umumnya pembaca lebih senang memilih
teks sastra untuk dijadikan rujukan ketika sedang jenuh dengan teks ilmiah
karena teks sastra menawarkan hiburan yang santai, menarik, indah dan dapat
menyegarkan otak. Namun jika sudah masuk kedalam ranah membaca untuk melakukan
penelitian sastra, mau tida mau pembaca harus dituntut tidak saja mengapresiasi
(menggauli) namun juga harus membongkar keseluruhan rahasia yang ada dalam teks
tersebut.
Memang dalam pendidikan di Indonesia dari sekolah dasar
sampai tingkat perguruan tinggi, teks ilmiah dan non fiksi lah yang digunakan
sebagai konsumsi sehari-hari. Pembaca diarahkan untuk mengisi otak dengan
ilmu-ilmu pasti, fakta-fakta dunia, sejarah dll. Dalam keadaan seperti ini,
teks sastra hanya ditempatkan sebagai penyegar saja atau lebih tepatnya sebagai
pelengkap jika terjadi kejenuhan. Sekalipun begitu, untuk memahami teks sastra
lebih sulit daripada memahami teks ilmiah. Hal ini dikarenakan hasil dari
kesimpulan para pembaca teks sastra hampir tidak pernah sama, tidak bisa mencapai
satu titik yang searah. Setiap pembaca teks sastra mempunyai persepsi
masing-masing dan kesimpulan masing-masing.
Teks-teks sastra kuno di belahan Negara manapun memberikan sumbangsih
terhadap teks ilmiah yang sekarang lebih dipentingkan daripada teks sastra.
Dari keberadaan munculnya saja, teks sastra lebih dahulu muncul dan lebih
dahulu dinikmati oleh para pembaca. Padahal pada kenyataannya para pembaca yang
nantinya akan membuat teks ilmiah, mereka tak jarang menjadikan teks sastra
yang sebelumnya ada sebagai rujukan atau landasan berpikir.
Saya tidak mengatakan bahwa teks sastra lebih baik dari teks
ilmiah dan begitu sebaliknya, karena masing-masing mempunyai manfaat tersendiri
yang disesuaikan dengan kebutuhan pembaca. Yang lebih ingin saya tekankan
adalah bagaimana pembaca pintar untuk menyikapi teks-teks bacaan yang menjadi
konsumsi sehari-hari. Dari beberapa macam jenis teks yang anda telan setiap
harinya maka anda akan dibawa kearah tingkat pemahaman yang kompleks dan saling
berkaitan. Untuk itu pentingnya menyaring dan memilah-milah akan apa yang sudah
masuk dalam mainset kita sepaya tida bercampur menjadi satu pemahaman yang
nantinya akan memperngruhi pola berpikir, perlu dijadikan kegiatan wajib dari
keseluruhan proses membaca. Seperti kitaka kita akan membuat teh daun, supaya
kita tidak tersedak dengan daun teh yang masuk ke mulut maka kita perlu
menyaring daun teh tersebut agar tidak menyatu dengan air teh itu sendiri.
Salam sastra!
Romansah
27-07-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar